Selasa, 10 Desember 2019

Tekan Produksi Gas Rumah Kaca, Ini yang Dilakukan Perusahaan Produsen Minyak Sawit Sukanto Tanoto


Tekan Produksi Gas Rumah Kaca, Ini yang Dilakukan Perusahaan Produsen Minyak Sawit Sukanto Tanoto
Sumber: asianagri.com

Perusahaan perkebunan dan pengolahan minyak sawit kerap dipandang sebagai salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca. Deforestasi hingga karbon dioksida yang dihasilkan selama proses produksi minyak sawit menjadi penyebab munculnya stigma tersebut. Salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto, yakni Asian Agri juga tidak lepas dari pandangan negatif yang menyelimuti industri sawit.

Harus diakui, beberapa perusahaan perkebunan dan pengolahan minyak sawit memang ada yang kurang mengindahkan aturan tentang tata kelola perkebunan dan pemrosesan minyak sawit. Meski demikian, tidak sedikit juga perusahaan yang selalu berusaha keras untuk mengikuti peraturan dan menerapkan praktek industri yang bertanggung jawab. Asian Agri adalah salah satu contohnya. Melalui kebijakan nol deforestasi dan pemanfaatan energi terbarukan, unit bisnis Sukanto Tanoto ini selalu berusaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kebijakan Nol Deforestasi Asian Agri


Setiap unit bisnis Royal Golden Eagle selalu berpegang pada prinsip bahwa bisnis harus bisa memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Eksistensi bisnis Sukanto Tanoto juga sangat bergantung pada alam. Dengan demikian, menjaga kelestarian lingkungan tidak ubahnya dengan menjaga eksistensi perusahaan itu sendiri.

Demi menjaga lingkungan agar tetap lestari sekaligus menekan produksi gas rumah kaca, Asian Agri menerapkan kebijakan nol deforestasi secara ketat. Sebagai buktinya, unit bisnis Sukanto Tanoto ini juga telah menghentikan perluasan kebun intinya sejak tahun 2003 lalu.

Kebijakan nol deforestasi Asian Agri tidak hanya berhenti pada penghentian perluasan kebun inti. Unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut juga bekerja sama dengan para ahli untuk melestarikan hutan dengan stok karbon tinggi. Konservasi spesies langka, revitalisasi ekosistem hingga pemugaran situs cagar alam di sekitar area operasi juga dilakukan oleh Asian Agri.

Selain menerapkan kebijakan nol deforestasi dalam internal perusahaan, Asian Agri juga memberlakukan kebijakan serupa kepada mitra bisnisnya. Perusahaan Sukanto Tanoto ini hanya menerima buah sawit yang telah mendapat sertifikasi dan terbukti menerapkan praktek pertanian yang bertanggung jawab.

Memanfaatkan Energi Bersih untuk Menekan Emisi Gas Rumah Kaca


Dengan perkebunan sawit seluas 160.000 hektar dan 21 pabrik pengolahan minyak sawit, Asian Agri membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar untuk menunjang operasional produksinya. Tingginya kebutuhan listrik ini mendorong unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut untuk mewujudkan kemandirian energi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Asian Agri memilih pendekatan yang cukup berani. Tepat pada tahun 2015, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut memulai proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) untuk setiap pabrik yang dioperasikannya.

Hingga tahun 2019, sedikitnya sudah ada 7 PLTBg yang sudah beroperasi. Angka tersebut masih bertambah menjadi 3 unit PLTBg berkapasitas 1 MW hingga 2,2 MW. PLTBg Asian Agri ini pun bukan hanya dibangun untuk mewujudkan kemandirian energi. Mengingat bahan bakunya yang berasal dari limbah POME (Palm Oil Mill Effluent), PLTBg ini juga menjadi jawaban untuk menekan produksi limbah.

PLTBg yang dibangun oleh Asian Agri ini juga dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat sekitar. Dari total kapasitas produksi listrik sebesar 1 MW hingga 2,2 MW, pabrik Asian Agri hanya membutuhkan sekitar 0,7 MW untuk operasional produksinya. Masih ada sisa sekitar 0,3 MW hingga 1,5 MW. Listrik ini pun kemudian disalurkan kepada masyarakat sekitar.

Komitmen Asian Agri dalam menerapkan praktek industri yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan terus terjaga hingga kini. Hingga tahun 2020 nanti, unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut bahkan menargetkan 20 unit PLTBg selesai dibangun dan mulai beroperasi.